Beranda Mini Novel Semua Bermula dari Sebuah Sambaran

Semua Bermula dari Sebuah Sambaran

0
BERBAGI
Don’t Forget to Remember Me – Part 3
Don’t Forget to Remember Me – Part 3

“Lhoh.. ayah kok nggak dengar suara kamu dateng?” ucap ayah Nana lalu melihaku menenteng koper dan bukan menariknya, kemudian tertawa.

“Ibu di dalam?” tanya Nana tidak menjawab.

“Iya.. lagi masak Soto daging kesukaanmu..” jawab Ayah Nana disusul dengan ekspresi melonjak kegirangan khas Nana. Lalu Nana kemudian langsung berlari ke belakang tak mempedulikanku.

“Gimana nak? Masih mau menikahi anak saya?” tanya Ayah Nana yang tersenyum geli melihat ekspresiku yang sedang terabaikan.

Aku hanya membalasnya dengan tawa, lalu memeluknya. Entah mengapa sejak awal bertemu, Ayah Nana selalu terasa bagaikan sahabat sendiri. Beberapa kali kami memancing bersama, lalu ia membagikan pengalaman hidupnya ketika zaman masih susah pada masanya. Ia selalu mengatakan bahwa ia beruntung bisa bersama istrinya saat ini, karena terlalu banyak situasi tak terduga di desanya. Ia juga selalu menyebutkan bahwa ada seorang pahlawan desa yang menyelamatkan hidup mereka, terutama istrinya. Pahlawan itu tak bernama, dan kisah kematiannya pun tak jelas.

Penasaran dengan kisah sebelumnya? Baca di: Sebuah Perjumpaan di Dusun Gamuruh

Setelah memeluknya, ayah Nana langsung mempersilahkan aku masuk. Kudengar suara Nana sudah dengan cerewet mengobrol bersama ibunya di dapur. Suaranya terdengar begitu menggemaskan.

“Maas? Ke dapur sini! Nyobain masakannya ibu!” teriak Nana.

Aku berjalan santai menuju dapur. Sudah sejak di teras tadi aku mencium aroma harum nan nikmat dari soto buatan ibu Nana. Dan benar saja, aroma harum itu makin kuat ketika aku sampai di dapur. Kulihat Nana sedang asyik menggoreng tempe di sebelah ibunya yang sedang memasukkan beberapa ‘resep rahasia’ ke dalam soto yang memberikan ciri khas tersendiri di tiap masakannya.

Baca juga:

Ketinggalan dengan awal mulanya mini-novel ini? Mulai dari sini: Don’t Forget to Remember Me – Part 1

 

Sekali lagi, ibu Nana tampak masih canggung ketika bertemu denganku. Tapi cepat-cepat ia menutupinya. Ia tak sadar bahwa aku pun menyadari keanehan pada dirinya hingga saat ini.

“Sini nak, cobain masakan ibu!” kata ibu Nana sambil menyodorkan sendok sayur yang seperempatnya terisi oleh kuah soto. Aku langsung menerimanya dan mencicipinya. Rasanya sangat enak. Aroma daging dan kuah soto yang bercampur jadi satu langsung memenuhi hidungku. Begitu membangkitkan selera makanku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here